Klinik Fotografi

Silahkan posting di sini jika ada pertanyaan atau sharing pengetahuan tentang fotografi. Sedapat mungkin saya akan membantu :)

  1. ian
    11 Mei 2011 pada 11:09 am | #1

    ada hitung2an masalah komposisi ga,,masalah iso,,apperture,,ato diafragmanya,,,soalnya kadang masih bingung mau pake manual tapi perbandngannya berapa-berapa,,,karena exposure di 0 ato -1 ato +1 kan bisa didapat dengan berbagai 3 perbandingan tersebut…

    • 11 Mei 2011 pada 11:20 am | #2

      Maksudnya komposisi Iso, Shutter Speed dan Diafragma?
      Coba dibaca lagi tulisan saya di http://sueswit.wordpress.com/2011/04/22/memahami-exposure-i/

      di situ ada pengetahuan soal EXPOSURE dengan pemahaman soal EXPOSURE TRIANGLE. Kalau ada yang kurang jelas dengan aplikasi triangle tersebut silahkan ditanyakan lagi :)

      Pada intinya, untuk penggunaan mode Manual (M) kamera sudah menyediakan exposure meter yang bisa kita jadikan patokan exposure dari gambar yang akan kita peroleh.

  2. ian
    11 Mei 2011 pada 9:21 pm | #3

    kalau untuk foto seperti panning,,dalam kondisi cahaya kurang,,mau bokeh konsep Triangle sedikit sudah mengerti,,yang mau tanya lagi misal diafragma lensa 3.5-22…pada diafragma berapa gambar yang dihasilkan bener2 oke..pernah baca katanya ditengah2 nya,,bener ga?terus shutter speed juga sama mau tanya juga bagusnya diangka berapa,,ada yang bilang di angka 60-120 (objek dalam kondisi diam)…thanks mas…

  3. 12 Mei 2011 pada 12:36 pm | #4

    Saya pecah2 dulu pertanyaannya ya? agak bingung soalnya :)

    Tanya : Pada diafragma berapa gambar benar2 oke?
    Jawab : Angka aman diafragma kalau dibilang di tengah-tengah sih ya boleh saja. Sebab biasanya pada diafragma paling lebar, lensa kurang maksimal. Demikianpun kalau dipaksa pada diafrahma terlalu sempit (misalnya di atas F/16, nanti foto akan penuh bintik-bintik karena kotoran di sensor keliatan semua. Sesuaikan saja sama konsep & optimalisasi eksposure.

    Tanya: Shutter speed juga sama mau tanya juga bagusnya diangka berapa,,ada yang bilang di angka 60-120 (objek dalam kondisi diam)
    Jawab : Kemampuan orang pada handling shutter speed sangat berbeda-beda. Trus fasilitas pada lensa (mis: IS/VR/OIS) juga menentukan angka shutter speed yang dibutuhkan.
    Tapi ada yang bilang kalau angka minimal shutterspeed adalah seper atau satu per focal lenght lensa. Misalnya pakai FL 70mm maka shutterspeed aman ada di angka 1/70 detik dan seterusnya.
    Pada prakteknya semua terserah kemampuan Anda
    :)
    Semoga membantu

  4. Ely
    31 Mei 2011 pada 11:29 am | #5

    lihat blog nya.. mmm jadi ngiler.. sip deh, ini ada yang mau saya tanyakan Pak April saya pingin tau foto dokumentasi apa bisa diambil dari capture video.? apa kelemahan dan kelebihannya ya? makasih…

    • 31 Mei 2011 pada 11:36 am | #6

      Salam,
      Kalau ngomong sekedar bisa, pasti bisa foto dokumentasi diambil dari capture video. Tapi kalau ngomong soal kualitas pasti lain lagi. Pertama, yang pasti video adalah konsep dokumentasi visual yang selalu bergerak. Ya bergerak obyeknya, ya bergerak pengambilannya. Jadi untuk mendapatkan gambar capture yang benar2 freeze pasti tidak mudah. Yang kedua soal kualitas resolusi. Agak mending kalau yang dicapture adalah video dengan format Full HD dimana kita masih bisa mendapatkan besaran resolusi sekitar 1920×1080.

      Semoga membantu.

  5. Jonathan
    23 Agustus 2011 pada 4:44 pm | #7

    pak tanya…
    gmna cara gnti jenis file RAW ke JPEG?(saya pakai canon)
    terima kasih..
    salam kenal..

    • 21 September 2011 pada 11:42 am | #8

      Ada beberapa software yang memungkinkan kita mengkonvert file RAW ke JPG. Tapi, idealnya gunakanlah software bawaan dari kamera masing-masing. Kalau Canon, install software bawaannya yang ada di DVD di kardus waktu pembelian. Nama softwarenya Canon DPP.

  6. zokerzack
    12 Oktober 2011 pada 10:17 pm | #9

    om maaf sya mau nanya kalo ligh meter itu kebalik antara over sama under knapa yah???

  7. Dian
    20 Desember 2011 pada 4:29 pm | #10

    Slam Kenal..

    Mas saya mo nanya.. kalo setiap beres moto, mas langsung cetak./pulikasi, ato di edit lagi terus cetak/publikasi…

  8. Andi Darmanto
    21 Januari 2012 pada 12:05 pm | #12

    Saya bersama istri saja dianugerahi seorang putra yang saat ini sudah berusia 5 bulan. Kami saat ini ingin secara teratur mendokumentasikan perkembangannya. Selama ini kami hanya menggunakan fitur kamera yang ada di ponsel milik saya. Tapi setelah saya lihat-lihat hasilnya di komputer tidak memadai. Apalagi setelah dicetak. Dari situ kami berkeinginan untuk membeli sebuah kamera yang lebih bagus dengan hasil yang lebih memadai. Jika kami memiliki anggaran kurang lebih empat juta rupiah kira-kira pilihan yang bagus apa? Apakah dengan anggaran segitu kami bisa membeli sebuah kamera digital SLR?

    • 21 Januari 2012 pada 12:07 pm | #13

      Yth Bapak Andy, terlebih dahulu kami ingin mengucapkan selamat untuk hadirnya putra yang saat ini pasti sedang lucu-lucunya. Memang dari pengalaman beberapa orang yang pengasuh tahu, orang tua baru merasa perlu memiliki kamera saat mereka punya anak dan ingin mengabadikan momen-momen penting perkembangannya.
      Mengapa kamera yang ada di ponsel kurang memadai? Ya karena adanya fasilitas kamera di sebuah gadget ponsel memang hanya merupakan fitur pelengkap dan sekedar tambahan. Bukan merupakan fitur utama yang benar-benar diunggulkan kualitasnya. Kalau mau hasil gambar yang memadai, ya tentu harus memiliki kamera yang benar-benar kamera dalam pengertian bukan merupakan fitur tambahan. Dengan begitu hasil gambar yang kita perolehpun pasti akan lebih maksimal.
      Sekarang mungkin yang menjadi bahan pertimbangan adalah harus memilih kamera merk apa, dengan fitur yang bagaimana, dan apa saja pertimbangannya. Dengan anggaran kurang lebih empat juta rupiah, sebetulnya pilihan bisa menjadi sangat leluasa untuk memilih kamera yang bagus. Bahkan kalau hanya satu setengah atau dua jutapun pilihan kamera bagus juga banyak.
      Soal merk memang juga berpengaruh. Saya sarankan utuk memilih brand yang sudah terpercaya saja. Disamping kualitasnya terjamin, aftersales dan layanan service-nyapun biasanya tidak merepotkan. Kalau terfikir untuk memilih kamera digital SLR (DSLR) itu jauh lebih bagus. Karena yang pasti kamera digital jenis DSLR memang sudah dilengkapi dengan fitur-fitur lebih bagus, bahkan bisa digunakan secara profesional. Itupun tidak mesti sulit secara penggunaan. Karena meskipun untuk kegunaan pro, tapi kamera DSLR juga memiliki pilihan menu-menu auto yang memudahkan. Soal hasil,saya jamin pasti akan jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan kamera pocket, apalagi kamera ponsel.
      Anggaran empat juta rupiah, kalau ditambahi sedikit saja cukup untuk membeli kamera DSLR kit (dipaketkan dengan lensa standar). Sebagai gambaran, baik itu DSLR merk Canon, Nikon atau Sony yang level entry, harga kitnya antara 4.2 sampa 4.7 jutaan. Plus ditambah memory card yang sekitar seratus ribuan kamera sudah siap dipakai untuk mengabadikan momen-momen penting keluarga Anda.

  9. ian
    3 Februari 2012 pada 2:29 pm | #14

    Saya pernah hunting bareng ama teman2 baru kenal juga sih, singkat cerita , kamera sama, model sama, waktu sama, ko hasil punya dia lebih bagus, lebih tajem dari punya saya,

    saya pake nikon D3100 lensa 18-55. apa ada setingan atau teknik yang saya kurang tau?

    • 3 Februari 2012 pada 2:34 pm | #15

      Kemungkinannya banyak. Kalau kamera dan lensanya sama, apakah settingan teknisnya juga sama? mode fokus, area fokus, mode pemotretan, F number/ shutter spreed dll. Karena misalnya penggunaan F number yang berbeda juga berpengaruh ke tingkat ketajamannya.
      Kalau semua sama tapi ketajaman tetep berbeda, mungkin bisa di cek settingan creative style/picture style-nya. Karena di creative style salah satu yang bisa kita optimalisasi adalah sharpness atau ketajamannya.

  10. dedy
    5 Maret 2012 pada 12:25 pm | #16

    Menurut pengalaman dan sepengetahuan om April adakah aturan legal formal mengenai kebolehan untuk memotret orang tanpa sepengetahuannya (foto candid/snapshot) dan mempublikasikannya, misal via jejaring sosial atau forum2 fotografi. Baik di Indonesia maupun luar negeri menurut pengalaman om April..
    Dan apa saja mungkin hal-hal yang perlu kita perhatikan berkaitan dgn hal tsb..?

  11. Melinda Cahyani
    20 Maret 2012 pada 1:01 am | #17

    Mas Sueswit yg Baik…. saya orang baru didunia fotografi (newbie). sy bingung memilih kamera. saya mempunyai budget 10 jt. sy tertarik dng SONY SLT A65, NIKON D90, CANON EOS 60D. mana sekiranya yang akan saya pilih menurut Mas Sueswit ? atau mas sueswit pny saran merk dan type lain ? agar saya tidak menyesal di kemudian hari.
    terimakasih sebelumnya.

    • 28 Maret 2012 pada 12:13 pm | #18

      Halo, maaf baru sempat menjawab.
      Ketiga pilihan alternatif yang disebutkan itu semuanya kamera bagus dan sangat recommended. Masing-masing membawa kelebihan dan kekurangannya masing-masing. jadi kalau harus ngomong mana diantara ketiga kamera itu yang terbaik, jelas gak bisa :) Saran saya kalau memang pingin gampang belajarnya, ya diperhatikan komunitas fotografi yang ada di sekitarnya. Kalau banyak yang pakai Canon, ya beli Canon dan seterusnya. Kalau mau unik dan memiliki kamera yang canggih secara teknologi dan bagus movie-nya, SLT A65 pilihan yang bagus juga. dan Tapiii kalau mau sedikit repot untuk benar-benar memilih yang terbaik, mending baca2 dulu review kamera di internet. Kadang2 kadang forum-forum fotografi atau review diinternet akan sangat membantu kita mendapatkan informasi yang lebih detil tentang produk.

  12. trendy
    29 Maret 2012 pada 1:17 pm | #19

    Mas Sueswit,, saya mw tanya,, saya kan dapet tugas dokumentasi dalam acara salah satu konser band papan atas,, saya ditunjuk untuk ambil gambar di panggung ( stage photography ),, nah saya pake canon 50d,, kira2 lensa yang baik untuk saya ambil pada daerah panggung apa mas? sementara ini saya hanya ada kit dan tamron 17-50..terimakasih..

    • 29 Maret 2012 pada 1:58 pm | #20

      Kalau moto panggung, harus diperhitungkan betul dimana posisi kita nanti. Terutama pada jarak dan coverage yang bisa kita ambil. Dengan lensa Tamron 17-50 f/2.8 yang bisa kita lakukan dengan jarak pengambilan normal panggung kita hanya dimungkinkan untuk mengambil suasana dan kompilasi beberapa atraksi panggung. tapi untuk mengambil ekspresi dan personal action dari orang/artis yang perform kayaknya masih kurang. Saran saya siapkan satu lagi lensa yang tele zoom. Minimal 55-250 lah. Syukur2 bisa yang lebih prima kualitasnya :)

      Semoga membantu

  13. fachrul
    10 April 2012 pada 11:01 am | #21

    salam jepret mas
    saya hanya minta di blog mas yg keren ini alangkah baiknya ditambah dengan tutorial mengenai edit mengedit di photoshop
    sebelumnya saya minta maaf apabila ternyata memang ada rubrik itu dalam blog yang mas kelola ini.
    terimakasih ya mas

  14. supriadi
    10 April 2012 pada 1:17 pm | #22

    Maaf mau tanya nih mas. Filter CPL untuk tiap2 merek apa punya perbedaan? kalo ada, yang membedakan itu apa, sekedar kwalitas material ataukah juga berpengaruh pada hasil foto? Thnks.

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 496 pengikut lainnya.