Jika tidak ada halangan, beberapa hari lagi saya akan membuka web fotografidarihati.com. Web ini bukan web gallery ataupun web karya foto-foto, tapi adalah web yang memajang hasil coret-coret iseng saya yang terwujud dalam disain-disain wearable stuff bertema fotografi. Sementara kebanyakan diwujudkan dalam bentuk t-shirt. Segera yang lain lain akan menyusul.
Read more…
Kalau mau jeli, saat kita lewat atau berjalan-jalan di tempat-tempat yang menarik, hampir pasti di situ pulalah kita akan melihat orang berfoto-foto. Tempat menarik tidak harus tempat wisata. Tempat menarik bisa di mana saja. Kalau di Surabaya, tengoklah di Taman Bungkul, Taman Pelangi, Cafe Hallo, rumah-rumah tua di Jl. Gula, kawasan Siola (khususnya di depan Hotel Majapahit) atau di mall yang memperbolehkan pengunjungnya berfoto-foto. Hampir setiap waktu pasti ada aktifitas fotografi di situ. Entah itu untuk yang berkomersil, misalnya foto pre-wedding, yang belajar foto, maupun yang berkumpul dengan komunitasnya untuk motret bareng.
Read more…
REBLOG from stluciasound:
DI PENGHUJUNG usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.

Agresi Belanda yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan di kota Solo menyebabkan Sri Suharti tidak sempat meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia masih ingat pada waktu rumahnya di Panularan dijadikan dapur umum para pejuang yang bergerilya melawan Belanda. Bahkan ia sempat terjun ke dalam kancah pertempuran sebagai spion gerilyawan yang dipimpin Slamet Riyadi di Solo. Sri Suharti sempat mengabadikan para pejuang yang bersembunyi di rumahnya. “Saya tidak tahu apakah masih ada sisa-sisa gambar para pejuang itu,” ujarnya
Kegemaran Sri memotret nyaris terkubur setelah ayahnya tutup usia pada tahun 1950. Selama empat tahun setelah ayahnya meninggal dunia, praktis ia tak banyak menyalurkan hobi memotret lagi. “Sehari-hari kerjaannya hanya melamun dan merenungi nasib,” ujarnya. Keadaan berubah setelah ia menerima pinangan Murjito, seorang pegawai negeri bagian dokumentasi dan humas di Balai Kota Surakarta pada tahun 1954.
“Setelah menikah dengan Mas Murjito, mulai tumbuh semangat memotret kembali,” ingatnya. Masih menggunakan kamera pinjaman merk Rolleiflex dan Rolleicord, Sri kembali menekuni dunia yang nyaris dilupakannya. Suaminya, Murjito, mendorongnya untuk kembali bergelut menekuni dunia fotografi dan mengabadikan berbagai peristiwa di kota Solo pada tahun 1970-an. “Mungkin hampir 16 tahunan lebih saya ndak memotret,” ujarnya mengenang.
Read More
Dulu,
semasa aku masih suka menumpuk-numpuk kertas HVS yang kubeli eceran menjadi sebuah notes yang tebal, aku begitu mudah menghabiskan isi pena hanya dalam hitungan minggu.
Dulu,
semasa uang saku hanya cukup untuk beli sarapan dan transport ke kampus, aku bisa dengan mudah membuat catatan yang panjang dan begitu merdu.
Dulu,
semasa tidak ada beban harus sesegera mungkin menjadi kaya, benturan kecil saja di hati bisa menjadi 5 halaman puisi yang berakhir dengan sertifikat, piala, honorarium atau cinta.
Dulu,
semasa memegang buku bermutu dan mahal masih begitu sulitnya, otakku rasanya tidak pernah lelah menuruti kehendak bahasa-bahasaku.
Dan dulu,
sepuluh atau empatbelas tahun yang lalu dimana mempunyai sebuah mesin ketik elektrik adalah cita-cita terbesar dalam hidupku, aku bisa begitu merasa cerdas menyelesaikan bacaan 280 halaman dalam waktu semalam.
—–
Aku sekarang bisa memeluk dunia,
mengetik sesuka,
dan tahu apapun yang aku mau tahu.
Tapi tiba-tiba aku rindu kehidupan seperti dulu.