Kalau dihitung waktu efektif, sudah kurang lebih 9 tahun aku pegang kamera digital. Sekali lagi waktu efektif. Dibilang efektif karena memang efektif motret sejak dekade DIGITAL kamera muncul. Cinta motret sih, sudah sejak SMA, kuliah bahkan awal bekerja. Cuma memang waktu-waktu itu motretnya ‘tidak efektif’.
Satu-satunya alasan tidak efektifnya adalah faktor ‘biaya tinggi’ secara operasional. Penjelasannya, bahwa jaman dulu memang menyisihkan budget uang dan kesabaran untuk berfotografi memang berat. Beli film, hunting, gunting, cuci, cetak
– disamping biaya juga prosesnya relatif panjang dan lebih sering menyakitkan (kalau misalnya satu rol film jadi cuma 3 atau 5 lembar)
But then… segalanya jadi mudah.
Mulai dari beli kamera poket (klo gak salah) Sony DSC P-32, ganti ini ganti itu, kemudian masuk ke dunia Digital SLR Nikon D70, Canon 350D, Nikon D70s, Canon 20D, 30D, Konica Minolta 7D, Sony A300, A700, A850 dan tetek bengeknya.
Masuklah saya ke dunia fotografi, hobby kemudian ke area profesional. Profesional bukan karena saya jago. Tapi murni karena saya cari duit dari situ
. Wedding, liputan, interior, produk, fashion semua saya kerjakan.
Sekarang, masih (efektif) motret.
Cuma membatasi diri supaya mood- tetep terjaga dengan bagus.
Belakangan baru nyadar kalau ternyata memotret profile itu ternyata nikmat. Menangkap ekspresi, menemukan banyak makna dari bahasa muka, sorot mata, garis bibir.

Kebanyakan candid, tapi bukan berarti pose haram. Sudah ada filternya. Begitu yang terekam adalah ekspresi palsu, langsung delete
Apa nama filternya? Jawabnya Filter HATI

