Arsip

Archive for the ‘Psikologi Fotografi’ Category

Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer’ II

26 Mei 2011 1 komentar

Banyak yang menanyakan kelanjutan tulisan saya tentang Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer I beberapa minggu lalu. Sebenernya sampai tulisan ini saya buat, tidak ada ide tentang apa yang harus disampaikan. Tapi kemarin kebebetulan ada KEJADIAN yang membuat saya ingin menulis kelanjutannya.
Read more…

Categories: Psikologi Fotografi

Stage Photography I (Tips Psikologis)

23 Mei 2011 7 komentar

Stage fotografi atau fotografi panggung adalah salah satu bidang fotografi yang saya sukai. Banyak hal yang membuat saya merasa nikmat memotret perform panggung. Apalagi kalau yang sedang perform adalah artist yang kebetulan saya sukai. Memotret mereka terasa lebih nikmat dibanding sekedar menikmati apa yang mereka tampilkan.

Pertama kali saya memotret Stage sekitar tahun 2003an saat masih aktif bekerja di sebuah media massa. Itupun masih menggunakan alat seadanya, sebuah kamera prosumer dengan tele zoom. Sayangnya filenya hilang entah kemana. Kalau tidak salah watu itu ada perform dari Siti Nurhaliza di sebuah Mall di Surabaya.


Read more…

Foto Bagus, Antara Alat & Hati

6 Mei 2011 16 komentar

Membuat sebuah foto bagus dengan modal alat bagus akan cuma sampai pada titik kepuasan relatif yang belum mampu membuat seorang fotografer tidur nyenyak. Karena akan terus penasaran untuk membuat foto yang lebih bagus dengan alat yang lebih bagus dan lebih bagus. Akan jauh lebih membuat hati tentram saat sebuah foto bagus ditangkap dengan emosi positif dan modal HATI.

Saat meluncurkan tulisan Mendefinisi Ulang Status Fotografer beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya pada saya; apa itu foto bagus? Belum saya jawab dan terimakasih karena pertanyaan itu jadi inspirasi bagi saya untuk membikin tulisan ini.
Read more…

Categories: Psikologi Fotografi

Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer I (Tips bagi yang baru masuk di dunia fotografi)

27 April 2011 17 komentar

Penting diketahui bahwa ‘ego’ pemain foto lama yang suka menempatkan diri agak terlalu tinggi kadang-kadang sensitif untuk mengakui bahwa semua orang bisa saja BAGUS dengan alat yang disandangnya. Tidak peduli sudah berapa lama dia memegang kamera. Tidak peduli seberapa bagus kualitas gear yang dipunyai dan tidak juga peduli seberapa serius yang bersangkutan dalah menekuni dunia fotografinya.

Read more…

Categories: Psikologi Fotografi

Tentang Pengkultusan Merk Kamera

26 April 2011 16 komentar

Saya tidak akan mengemukakan kelebihan satu brand satu dengan brand lain di artikel ini, yang jelas soal ini saya hanya ingin memberikan beberapa catatan bahwa;

  • Di luar sana, banyak yang rela meluapkan emosi sampai mengeluarkan otot leher untuk membela kehormatan brand yang dipakai. Itu bodoh. Kecuali dibayar perjam untuk energi emosi yang dikeluarkan.
Categories: Psikologi Fotografi

Seni Fotografi Wedding (II)

25 April 2011 9 komentar

Wedding Sueswit

Fakta keempat yang memalukan dan tidak banyak yang tahu soal perkerjaan ini adalah bahwa saya terlalu sensitif untuk hal-hal yang penuh emosional seperti ini.

Semboyan saya kalau boleh dikata begitu. Bahwa yang saya abadikan dalam momen penting seperti pernikahan bukan cuma dokumentasi acara saja. Tapi jauh lebih dalam dari itu, saya selalu mengatakan bahwa saya mampu mengabadikan emosinya.

Read more…

Categories: Psikologi Fotografi

Seni Fotografi Wedding (I)

23 April 2011 10 komentar

Wedding Sueswit

Sebelumnya harus saya sampaikan bahwa tidak ada sesuatu yang formal dalam artikel ini. Sekedar berbagi meski saya tahu sisi pandang blog sharing terlalu sempit dan nyaris tidak dapat ditiru. Tapi minimal saya cukup senang kalau Anda sekalian terinspirasi dan menemukan jalan Anda sendiri untuk menikmati pekerjaan ‘penting’ seperti mendokumentasikan sebuah acara pernikahan.

Read more…

Categories: Psikologi Fotografi

Kedewasaan Berfotografi Adalah Pada Saat Kita Tidak Lagi Banyak Menciptakan Sampah di Memory Card Kita

23 Februari 2011 6 komentar

Bukan berarti memotret banyak-banyak itu salah. Bukan berarti menghamburkan shutter itu pekerjaan bodoh. Bukan juga berarti sedikit motret atau menghemat jepretan itu bijaksana dan pinter.

Unsur “kedewasaan” memotret yang saya maksudkan adalah kematangan personal dari pribadi-pribadi beruntung yang diberi berkah untuk sanggup memiliki gear yang bernama kamera. 

Bukan kuantiti.

Meskipun wujud aplikatif nyata dari apa yang saya perbincangkan memang ke arah kuantiti, namun bukan begitu adanya. Karena berbalik dengan alinea pembuka: boros shutter belum tentu nyampah, juga nyampah bisa saja dilakukan meski kita menghemat umur shutter. 

Jelas bahwa kualitas yang menjadi titik beratnya.

Mengapa “kedewasaan”?
Karena ilmu fotografi tidak mengenal hirarki keilmuan yang menentukan seseorang itu masih bodoh atau sudah pintar ‘motret’ 

Teknis berfotografi untuk menghasilkan sebuah karya visual yang tepat secara eksposur, bisa dipelajari hanya dalam  dua atau tiga hari saja. 

Tapi menciptakan ‘hati’ yang mampu terlibat dalam visualisasi fotografi itu yang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. 

Saat hati sudah mampu menggerakkan jari untuk menekan shutter.
Saat hati sudah bisa memasukkan emosi dalam karya fotografi.
Saat hati sudah menjadi ambang nilai kelayakan obyek.
Saat hati sudah benar-benar bisa menjadi hulu dan hilir aktivitas kreasi visual fotografi kita.

Saat itulah kita berarti bisa menapak pada alur kedewasaan berfotografi.
Dan tidak akan banyak lagi sampah visual yang kita ciptakan.

Sueswit.

Categories: Psikologi Fotografi

Profiling People

11 Februari 2011 1 komentar

Kalau dihitung waktu efektif, sudah kurang lebih 9 tahun aku pegang kamera digital. Sekali lagi waktu efektif. Dibilang efektif karena memang efektif motret sejak dekade DIGITAL kamera muncul. Cinta motret sih, sudah sejak SMA, kuliah bahkan awal bekerja. Cuma memang waktu-waktu itu motretnya ‘tidak efektif’.

Satu-satunya alasan tidak efektifnya adalah faktor ‘biaya tinggi’ secara operasional. Penjelasannya, bahwa jaman dulu memang menyisihkan budget uang dan kesabaran untuk berfotografi memang berat. Beli film, hunting, gunting, cuci, cetak :) – disamping biaya juga prosesnya relatif panjang dan lebih sering menyakitkan (kalau misalnya satu rol film jadi cuma 3 atau 5 lembar) :D

But then… segalanya jadi mudah.
Mulai dari beli kamera poket (klo gak salah) Sony DSC P-32, ganti ini ganti itu, kemudian masuk ke dunia Digital SLR Nikon D70, Canon 350D, Nikon D70s, Canon 20D, 30D, Konica Minolta 7D, Sony A300, A700, A850 dan tetek bengeknya.

Masuklah saya ke dunia fotografi, hobby kemudian ke area profesional. Profesional bukan karena saya jago. Tapi murni karena saya cari duit dari situ :) . Wedding, liputan, interior, produk, fashion semua saya kerjakan.

Sekarang, masih (efektif) motret.
Cuma membatasi diri supaya mood- tetep terjaga dengan bagus.

Belakangan baru nyadar kalau ternyata memotret profile itu ternyata nikmat. Menangkap ekspresi, menemukan banyak makna dari bahasa muka, sorot mata, garis bibir.

Kebanyakan candid, tapi bukan berarti pose haram. Sudah ada filternya. Begitu yang terekam adalah ekspresi palsu, langsung delete :)

Apa nama filternya? Jawabnya Filter HATI

Categories: Psikologi Fotografi
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 496 pengikut lainnya.