Seorang Fotografer Wanita Mengabadikan 3 Zaman Melalui Kamera

REBLOG from stluciasound:

DI PENGHUJUNG usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.

Agresi Belanda yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan di kota Solo menyebabkan Sri Suharti tidak sempat meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia masih ingat pada waktu rumahnya di Panularan dijadikan dapur umum para pejuang yang bergerilya melawan Belanda. Bahkan ia sempat terjun ke dalam kancah pertempuran sebagai spion gerilyawan yang dipimpin Slamet Riyadi di Solo. Sri Suharti sempat mengabadikan para pejuang yang bersembunyi di rumahnya. “Saya tidak tahu apakah masih ada sisa-sisa gambar para pejuang itu,” ujarnya

Kegemaran Sri memotret nyaris terkubur setelah ayahnya tutup usia pada tahun 1950. Selama empat tahun setelah ayahnya meninggal dunia, praktis ia tak banyak menyalurkan hobi memotret lagi. “Sehari-hari kerjaannya hanya melamun dan merenungi nasib,” ujarnya. Keadaan berubah setelah ia menerima pinangan Murjito, seorang pegawai negeri bagian dokumentasi dan humas di Balai Kota Surakarta pada tahun 1954.

“Setelah menikah dengan Mas Murjito, mulai tumbuh semangat memotret kembali,” ingatnya. Masih menggunakan kamera pinjaman merk Rolleiflex dan Rolleicord, Sri kembali menekuni dunia yang nyaris dilupakannya. Suaminya, Murjito, mendorongnya untuk kembali bergelut menekuni dunia fotografi dan mengabadikan berbagai peristiwa di kota Solo pada tahun 1970-an. “Mungkin hampir 16 tahunan lebih saya ndak memotret,” ujarnya mengenang.

Read More

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 380 pengikut lainnya.