Analisis Sederhana tentang Seni Fotografi

Saya tergerak untuk membuat tulisan ini karena dari hari ke hari banyak hasil search di google tentang ‘seni fotografi’ yang nyasar dengan sengaja ke blog saya. Satu hari bisa 2 sampai 9 klik dari google dengan query ‘seni fotografi’

Oke kita mulai saja. Mengapa era digital ini banyak bermunculan pertanyaan mengenai seni fotografi. Kenapa tidak dari jaman-jaman dulu semasa fotografi masih merupakan kegiatan langka dan sulit dimana memotret merupakan kegiatan yang njlimet dan membutuhkan pengetahuan ribet.

Sebelum lanjut mari kita cermati rangkaian foto karya Alejandro Maestre di bawah ini;

Atau foto-foto karya fotografer China berikut ini;

Bagaimana pendapat Anda?
Secara extreme barangkali itu adalah bagian paling rumit dari seni fotografi. Bukan sekedar bagaimana menangkap refleksi cahaya yang menimpa obyek kemudian menjadi karya visual fotografi. Siapapun yang punya kamera, terlebih kamera DSLR pasti mendambakan hasil foto yang bagus. Bagus dalam hal apa? Seberapa bagus? Bagus buat siapa? Standarnya apa? Semuanya memang serba relatif. Itulah misteri seni

Digital imaging? edit? pasti..! Tapi itu bukan poin pokok karena tuntutan fotografi digital memang seperti ada kelengkapan yang agak harus dilibatkan untuk memperoleh hasil yang lebih sempurna melalui proses digital. Yang penting adalah proses penciptaan dan konsep dasarnya tetap memakai hukum-hukum eksposure fotografi.

Baiklah kita mulai saja. Bahwa fotografi adalah seni visual dengan menggunakan cahaya sebagai elemen pembentuk grafis – oke, kita semua faham. Tapi sejauh apa kita bisa memahami bahwa apa yang kita hasilkan dari gadget kamera yang kita punya seharusnya punya makna? Bukan sekedar jepret dan mendapatkan gambar. Itu proses pastinya.

Proses belajar teknis fotografi dari pertama kali belajar memahami exposure, menentukan prioritas exposure (metering), sampai aplikasi-aplikasli lighting untuk menyempurnakan partisi-partisi eksposure dalam setiap elemen frame yang kita ambil. Sekali lagi, yang saya sebut di atas adalah proses belajar fotografi secara TEKNIS. Lepas dari teknis ini bukan berarti kita sudah matang.

Ada banyak faktor non-teknis yang justru akan lebih memberikan sumbangsih terhadap nilai seni dari foto yang Anda ciptakan. Secara sederhana aspek ini biasanya berkutat pada masalah angle, komposisi dan yang yang sejenisnya. Meski ini lebih pada nilai selera pribadi, tapi pasti tetap bisa dipelajari. Minimal jam terbang akan membuat selera kita terasah untuk memahami nilai dari sebuah cita rasa.

Kembali ke istilah seni fotografi. Kalau boleh saya sederhanakan bahwa pokok dari proses penciptaan karya seni fotografi adalah hasil dari sebuah PROSES KREATIF. Proses memotret yang ‘bukan sekedar’ mempertimbangkan konsep kematangan ekposure. Tapi benar-benar ada nilai lebih yang bersifat kreatif yang dimasukkan dalam proses penciptaannya.

Itu konsep sederhananya. Konsep rumitnya sedang saya siapkan dalam bentuk sebuah buku. Mudah-mudahan lancar dan bisa segera tayang.

Intinya adalah; pada tahapan manapun kemampuan fotografi Anda saat ini, entah baru pemula, kelas menengah ataupun sudah mahir. Anda tidak perlu berpusing-pusing saat diajak berdiskusi soal seni fotografi. Karena sejatinya seni itu relatif, tidak terbatas, tidak terbendung dan sangat personal. Wujudnyapun tidak bisa dinilai mutlak dan absolut dari panca indera. Tapi yang pasti bisa dirasa.

Kesimpulannya; konsep bahwa fotografi adalah menghasilkan karya visual dengan cahaya itu mutlak, tapi sejauh mana kita bisa memberi nilai lebih pada makna karya fotografi yang kita ambil, itulah SENI FOTOGRAFI. @sueswit.copyrighted

  1. sangat menginspirasi saya yang masih prematur dalam fotografi.
    Kenyataannya smakin hari smakin kehilangan makna fotografi. mudah terjebak karena diluaran sana banyak yang menilai seni fotografi dengan uang melalui pandangan “asal karya itu bisa dijual, artinya udah bisa bikin karya bagus”. padahal enggak. hhmmmm ….

    • Teguh
    • Januari 14th, 2012

    mantap Pak sharing tulisannya . jadi terpacu buat belajar lagi untuk lebih mengerti tentang fotografi.

  2. Sangat menginspirasi Om April, kawan lama tapi barusan berkunjung, semoga saja masih ingat dengan saya hehe..

    kaget kalau om April sudah pernah mengunjungi tugupahlawan.com (blogger surabaya) dan menulis di kolom chat, terima kasih sudah berkunjung di tugupahlawan.com.

    ditunggu kapan bisa ngopi bareng :D

    • Halo Mas :)
      Inget-inget lupa, hehehehe Member Alpharian kan?
      Monggo kalau mau ngopi bareng :)

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 380 pengikut lainnya.