BROMO, The Land of God (Part I. Prewedding Mengesankan )
Sayangnya Bromo setahun belakangan indah ini sedang sakit batuk ![]()
Dalam kondisi sakit seperti sekarang ini sebenernya Bromo tetep ‘cantik’. Hamparan keindahan original sebuah padang berjajar gunung-gunung eksotis tetap memukau dan tidak membosankan untuk dinikmati. Nilai plus, bahkan asap belerang campur debu yang keluar dari kawah Bromo semakin menambah nilai ‘dramatis’

Hanya saja terkadang saat volume batuk dan debu sudah sangat berlebihan, akses untuk mendekat ke Bromo sedikit dibatasi. Panorama terbaik yang biasanya bisa dinikmati dari Pananjakan 1 ditutup aksesnya. Tapi bagi yang sudah sering ke Bromo dan mengetahui titik-titik lain untuk menikmati Bromo akan tetap bisa mencari celah-celah yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati rindu.
Ada yang namanya pananjakan dua, dan beberapa spot yang sebenarnya tidak mengarah ke Bromo secara langsung. Tapi tetap memiliki nilai keindahan yang luar biasa bagi saya.
Kenapa saya bilang ‘rindu’?
Karena Bromo bagi saya adalah satu dari keajaiban obyek fotografi landcape yang tidak pernah membosankan. Berpuluh-puluh kali saya mengunjungi tempat ini, dan tidak pernah sekalipun saya merasa jenuh. Bahkan belum pernah saya mendapati nuansa yang sama ketika saya kembali dan kembali ke tempat ajaib ini. Bromo seperti pesolek pintar yang selalu membawa pesona berbeda setiap kali mata saya manjakan untuk menatap paras cantiknya. Kalau ada perasaan malas setiap kali ada yang mengajak hunting foto ke sebuah tempat, tidak demikian halnya ketika ada yang mengajak saya ke Bromo ini. Hampir pasti akan saya iyakan.
Jaman saya masih aktif memotret komersial untuk keperluan pre-wedding, Bromo adalah salah satu tempat yang saya anjurkan bagi klien pengantin saya. Apapun cuaca yang ada pada saat pemotretan, saya juga hampir pasti merasa puas dengan hasilnya. Baik itu cerah, setengah cerah, berawan, mendung bahkan hujan sekalipun. Semua tetap bisa menghasilkan foto yang memukau. Tidak satukalipun saya menerima ketidakpuasan dari pengantin yang pre-weddingnya saya kerjakan di Bromo. Semuanya puas sepuas saya sebagai fotografernya.

Yang paling singkat, hanya beberapa jam saja di Bromo. Sekedar mengambil foto saat sunrise tiba. Sampai sekitar jam 11 siang. Perjalanan di mulai jam 4.30 pagi di Pananjakan. Dan berakhir sekitar jam 11 siang di padang pasir.
Biarpun singkat, tapi foto Bromo sesi denga Mas Reva dan Mbak Ova ini memuaskan saya dengan hasilnya. Apalagi salah satu foto yang dihasilkan di sesi ini kemudian dipakai di sebuah Surat Kabar Harian nasional untuk dijadikan cover halaman life stye. Setengah halaman full.

Yang paling lama, sampai pernah dua hari dua malam di Bromo. Mengerjakan foto prewedding dengan sebuah konsep. Konsep yang memang disiapkan oleh kedua pengantin yang sangat menyukai sesuatu yang berbau ‘Jepang’

Sesi foto konsep ini cukup melelahkan, karena harus sampai bermalam di Bromo. Juga harus benar-benar mengeksplorasi sekeliling Bromo. Bukan hanya pada spot-spot umum seperti Penanjakan dan padang pasir saja. Tapi juga harus memutar jauh sampai pasir berbisik, Padang Savana, sampai yang paling jauh ke Bukit Teletubbies. @sueswit.copyrigted
Bersambung ke bagian II













waahhhh kerennn pak april…two thumbs up deh..kereennn abiiss…LIKE THIS!!!! ^^
Makash Aida ..
Pakabar?
Miss it too.
Budal Mas?
Salam kenal…
foto2 nya bagus boss…
kalo foto di bromo itu bayar kah?
karena biasanya sudah banyak trmpat2 yg di komersilkan.
kalo boleh tau spot yg mana aja yg bagus untuk foto disana?
dan estimasi biaya berapa ya? rencananya weekend ini saya mau ke bromo.
Terimakasih..