Beranda > Psikologi Fotografi > Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer’ II

Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer’ II

Banyak yang menanyakan kelanjutan tulisan saya tentang Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer I beberapa minggu lalu. Sebenernya sampai tulisan ini saya buat, tidak ada ide tentang apa yang harus disampaikan. Tapi kemarin kebebetulan ada KEJADIAN yang membuat saya ingin menulis kelanjutannya.

Kemarin, atau tepatnya dua hari lalu, seperti biasa saya browsing-browsing beberapa temen yang upload foto-foto di beberapa gallery dan facebook. Memberi apresiasi semampu saya. Kalau bagus ya saya puji, kalau ada kurang ya saya sampaikan sebatas pengetahuan saya. Tapi di sebuah thread Grup Facebook rupanya apresiasi saya ditanggapi dengan emosional :) segala tantangan sampai pelecehan fisik sepertinya saya terima di situ.

Mungkin ybs merasa sudah merasa mampu membuat karya yang luar biasa sehingga berat baginya untuk menerima masukan. Segala bentuk nada sinisme yang ditujukan kepada saya berusaha saya tanggapi dengan santai dan bercanda. Yang gak sabar malah beberapa teman saya yang kebetulan membaca thread tersebut. Tapi yaaa…. sudahlah, minimal saya bisa berterimakasih karena dengan itu saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan ini.

Beberapa point penting yang mungkin bisa saya sampaikan adalah;

  • Menyandang status fotografer itu gampang. Karena dengan mengalungkan kamera dan membuat beberapa jepretan saja sudah membuat kita menjadi seorang fotografer. Yang berat adalah menyiapkan mental untuk menerima apresiasi buruk dari hasil yang sudah kita anggap baik.
  • Yakinkan pada diri Anda bahwa dengan mempublish karya Anda di Internet, Anda harus menyiapkan mental dengan segala konsekwensinya. Ya dicuri orang, ya ditiru idenya ya dikritik dan lain-lain. Kalau tidak siap dengan itu semua, simpan saja file Anda di hardisk.
  • Pujian itu racun yang membuat Anda tidak berkembang dan malas belajar. Cari kritik sebanyak-banyaknya dan analisalah dengan bijaksana. Percayalah, Anda akan jauh lebih maju kalau Anda membiasakan diri dengan kritik dan memanfaatkannya untuk mengetahui dimana kelemahan Anda.
  • Jejaring sosial lebih banyak memberi Anda apresiasi palsu,menyenangkan dan cenderung membunuh kreatifitas Anda. Jangan terlena.
  • Menjadi sombong bukan pilihan bagus. Selagi Anda menempatkan standar yang terlalu tinggi pada apa yang Anda bisa, Anda akan mentok pada suatu titik dan pasti Anda akan jauh dari yang namanya berkembang. Tinggal menunggu waktu untuk digeser sampai kemudian Anda tahu betapa bermaknanya kata-kata RENDAH HATI. @sueswit.copyrighted
Categories: Psikologi Fotografi
  1. salim rianto
    23 Oktober 2011 pada 2:44 pm | #1

    sepakat mas….

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 496 pengikut lainnya.