Foto Bagus, Antara Alat & Hati
Membuat sebuah foto bagus dengan modal alat bagus akan cuma sampai pada titik kepuasan relatif yang belum mampu membuat seorang fotografer tidur nyenyak. Karena akan terus penasaran untuk membuat foto yang lebih bagus dengan alat yang lebih bagus dan lebih bagus. Akan jauh lebih membuat hati tentram saat sebuah foto bagus ditangkap dengan emosi positif dan modal HATI.
Saat meluncurkan tulisan Mendefinisi Ulang Status Fotografer beberapa hari yang lalu, seorang teman bertanya pada saya; apa itu foto bagus? Belum saya jawab dan terimakasih karena pertanyaan itu jadi inspirasi bagi saya untuk membikin tulisan ini.
Apa itu foto bagus?
Secara teknis foto bagus mungkin sekedar foto dengan nilai eksposure yang tepat dengan area fokus dan ketajaman yang sesuai dengan kehendak. Lebih jauh lagi mungkin ambang point untuk membilang sebuah foto bagus adalah foto yang secara umum kualitas teknis dan kualitas nilai ceritanya mulai spesifik. Ada di atas nilai rata-rata foto bagus secara umum. Nilainya relatif tapi mudah ditebak.
Tidak usah memperdebatkan foto bagus dengan terlalu idealis karena sebetulnya cuma masalah sudut pandang saja. Hal ini lepas dari masalah foto komersil yang tentu saja point absolut kebagusan sebuah foto ada pada orang yang membayar. Mari kembali ke diri masing-masing saja. Dengan membuat sebuah pertanyaan yang harus kita jawab sendiri;
“Sejauh mana foto yang saya buat mampu membuat saya tersenyum puas?”
Soal ini saya sarankan Anda egois saja. Penilaian orang mungkin penting, tapi diabaikan saja karena jaringan sosial lebih banyak memberikan apresiasi palsu dan cenderung menyenangkan. Kembalikan saja pada HATI.
Sebagaimana kalimat pembuka saya di atas, ada dua alat yang bisa gunakan untuk membikin foto bagus. Yaitu alat yang bagus dan emosi positif plus HATI. Syukur-syukur kalau bisa punya keduanya. Tapi sejauh yang saya pantau, point pertamalah yang selalu rasanya membatasi ruang gerak sesorang fotografer untuk bisa dengan lebih perkasa tampil di kancah dunia visualisasi cahaya ini. Banyak kreatifitas dan energi positif yang terhambat HANYA karena merasa minder dan merasa tidak mampu berbuat apa-apa karena hanya mempunyai alat apa kadarnya.
Patut diingat bahwa fotografi adalah seni visual. Yang bisa menangkap karya visual adalah mata. Disinilah bedanya. Sebagus apapun foto Anda, setajam apapun, sedahsyat apapun warnanya, sehebat apapun bokehnya, tapi kalau itu Anda ambil tanpa hati, sampainya juga hanya di mata. Akan sangat jauh efeknya seandainya penghayatan yang Anda lakukan benar-benar dalam dan Anda bisa melibatkan hati pada setiap jepretan yang Anda lakukan. Sampainya juga akan langsung ke hati.
Berfikir teknis sejauh Anda mampu, beri empati, masuk, hayati dan rasakan betul nuansa emosi obyek yang Anda foto. Maka selanjutnya secara otomatis organ-organ yang Anda libatkan dalam proses pemotretan akan mencari hal terbaik sesuai dengan fungsinya masing-masing. Andapun merasa nikmat dan tidak akan terbebani dengan ekspektasi yang berlebihan. Kenapa? Karena dengan melakukan itu secara otomatis Anda akan sampai pada kondisi yang dikenal sebagai TULUS.
Jauh jika dibandingkan dengan orang yang over ekspektasi untuk membuat foto bagus karena ‘beban’ untuk harus membuat foto bagus karena alat yang dipakai bagus dan mahal. Nilai ketulusannya cenderung rendah dan dia tidak akan sempat melibatkan hatinya untuk menangkap emosi.
Oke, jadi tidak masalah dengan alat apapun yang Anda punyai. Tentenglah dengan bangga dan ciptakan karya visual yang sebagus-bagusnya dengan cara tidak meninggalkan hati. Keterbatasan alat fisik bisa diatasi dengan alat fisik yang lain. Tapi soal hati, absolut dan tidak ada yang bisa memperbaiki jika Anda lalai. @sueswit. copyrighted













Mas April …….walaupun sudah memotret dengan hati, kalau klien atau yang dipotret ngga punya hati ….sebagus apapun foto kita akan selalu dirasakan hambar …..ideal nya yang motret maupun yang dipotret, atau kilen juga menikmati hasil jepretan dengan hati ….
Dalemmm…. ^_^
:::. inspiring..:::
saya suka kalimat ini:
Penilaian orang mungkin penting, tapi diabaikan saja karena jaringan sosial lebih banyak memberikan apresiasi palsu dan cenderung menyenangkan. Kembalikan saja pada HATI.
Betul alat hanyalah fisik ato body bisa diganti2 ato dioprek tapi kalo hati bgaimana ngopreknya.makin cinta dengan kameraku yang murah dan nggak enak dipegang. /.Widi Alpha
Sip deh
Soal enak nggak enak itu kan masalah kebiasaan saja, hehehe
Inilah isi hatiku yg ingin kuungkapkan kepada teman-teman fotografer yg tidak pede dg kameranya maupun yg sibuk cari kamera yang paling canggih hanya untuk mendapatkan gambar yg menurut dia “bagus”.
Terima kasih Mas April….izinkanlah aku share tulisanmu untuk teman-teman seprofesi yg belum memahami arti fotografi yang sebenarnya….
Monggo Mas
dengan senang hati kalau ada yang mau menshare blog ini.
Makasih juga sudah mau mampir
Salam kenal Mas April…
Ga sengaja saya temukan blog ini dan mulai baca2 tulisan anda, seperti rekan2 bilang tulisannya “dalem” dan penuh inspirasi.
Salam kenal Mas
Makasih sudah mau mampir dan baca-baca tulisan saya.
mah kren baget tulisannya mas..
tulisan ini sangat bermanfaan terutama bagi saya yang baru belajar..
trimakasih tulisannya membuat semangat belajar saya membara
Oke Mas
Makasih sudah mampir di blog saya
thanks mas…..tadinya saya sudah hampir bosan mencoba belajar fotografi tapi tak kunjung mendapatkan foto yg menurut saya bagus.. ksana kemari ikut hunting, ikut lomba, sampai keluar kota yg saya dapat hanya capek saya tidak pernah puas dngan hasilnya.
jujur setelah membaca tulisan ini semangat saya berkobar lagi…. baru saya sadari selama ini saya hanya menggunakan mata..untuk berikutnya saya akan coba menggunakan hati saya….
sekali lagi terima kasih tulisan ini memotivasi saya untuk terus belajar.
Semangat Mas
ijin share blog y mas…
dalem bgt ni kalimatnya, apa lg yg “Keterbatasan alat fisik bisa diatasi dengan alat fisik yang lain. Tapi soal hati, absolut dan tidak ada yang bisa memperbaiki jika Anda lalai.”
hahahha…
Silahkan Mas
Izin share ke rekan2 mas…suka sekali dgn tulisannya….terutama ttg psikologis fotografi….di tunggu tulisan yg lainnya mas….