Mendefinisi Ulang ‘Status’ Fotografer I (Tips bagi yang baru masuk di dunia fotografi)
Penting diketahui bahwa ‘ego’ pemain foto lama yang suka menempatkan diri agak terlalu tinggi kadang-kadang sensitif untuk mengakui bahwa semua orang bisa saja BAGUS dengan alat yang disandangnya. Tidak peduli sudah berapa lama dia memegang kamera. Tidak peduli seberapa bagus kualitas gear yang dipunyai dan tidak juga peduli seberapa serius yang bersangkutan dalah menekuni dunia fotografinya.
- Fotografi itu mudah.
- Kenali gear yang Anda punya. Baca buku manualnya dan maksimalkan fitur-fitur yang ada.
- Tidak usah sakit hati dengan kritik. TIDAK JENIUS ITU LUMRAH. Ada saatnya Anda akan jadi sangat bagus.
- Tidak usah sakit hati kalau ada SENIOR yang memandang sebelah mata. Mereka itu cuma ketakutan kalau Anda segera akan lebih pintar dari mereka.
- Soal teknis fotografi, Anda bisa menguasainya dengan cepat. Satu minggu dengan bimbingan yang tepat Anda sudah dapat menjadi mahir secara teknis.
- Yang menentukan perkembangan selanjutnya bukan lagi masalah teknis. Tapi HATI Anda.
- Balik modal itu keinginan yang manusiawi. Anda membeli kamera dengan uang Anda sendiri. Nominalnyapun tidak sedikit. Jadi sangat bisa dimengerti kalau Anda ingin mendapatkan penghasilan dari barang mahal tersebut.
- Tidak usah terburu-buru menentukan arah kegiatan fotografi Anda. Mau jadi sekedar hobby boleh, mau jadi freelance dianjurkan, mau profesional dan dapat duit sebanyak-banyaknya dari fotografi itu lebih bagus. Sesuaikan kemampuan dengan kata hati saja.
- Tidak usah terburu-buru juga menentukan arah jenis fotografi yang ada geluti. Biar waktu yang menentukan apakah Anda akan bagus memotret model, landscape, macro, still life, liputan, atau konsep. Bahkan tidak ada yang melarang kalau Anda bisa menguasai semuanya.
- Tidak ada karya fotografi yang salah. Semua tergantung dari keinginan Anda.
- Idealis itu bagus. Tapi ini jaman adalah jaman pamer. Pisahkan folder idealis Anda dan puaskan orang-orang di sekitar Anda dengan foto-foto yang bagus secara umum.

Catatan dari saya;
Fotografer bagi saya pribadi adalah kata benda sandang. Dalam pengertian siapapun yang menyandang alat foto (kamera) membidik dan menekan shutter untuk mendapatkan hasil gambar dari kamera sudah bisa disebut fotografer. Tidak perlu dibawa terlalu serius untuk membawanya ke arah profesional yang mensyaratkan harus ada nilai komersial dari nama kata benda yang disandang sebagai ungkapan profesi.
Kenyataan fotografi hari ini adalah bahwa tidak ada yang sulit untuk dipelajari. Beli kamera hari ini, dalam hitungan hari seseorang bisa saja dengan mudah menyatakan dirinya mahir berfotografi. Soal teknis dan operasional kamera bisa dipelajari dengan cepat. Teknologi memungkinkan kita dengan cepat menganalisa kesalahan dan memperbaiki dalam waktu yang sama. Dan murah.
Bandingkan dengan jaman analog dulu. Beli kamera hari ini, sampai enam bulan ke depan belum tentu yang bersangkutan sudah merasa bagus. Karena semua prosesnya memang serba lama dan mahal. Saya pribadi, beli film yang berisi 36 frame bonus 4 sebulan cuma mampu beli 2 roll. Menghabiskan 2 roll untuk kegiatan hobby bisa menghabiskan waktu sebulan. Setelah habis, copot film, cuci lab. Ternyata uang jadi dan layak dilihat gak sampe separuhnya. Oke, lihat catatan lalu belajar menganalisa kesalahan. Tetap saja banyak lupanya, banyak khilafnya karena kemalasan dan waktu.
Tidak heran, kalau saat itu prosentasi hobby fotografi di sebuah lingkungan masih bisa dihitung dengan jari. Bandingkan dengan hari ini. Menoleh kemanapun orang sudah menyandang DSLR. Dari yang usia-usia SMP bahkan SD sampai yang sudah benar-benar sepuh. Kurang lebih begitu kenyataannya karena di kelas basic yang saya ajar memang gradasi usianya amat lebar. Benar-benar ada yang siswa SMP sampai yang lebih dari 65 tahun. @sueswit. copyrighted
bersambung…













wah pengen juga ne jadi fotografer buat ilangin jenuh ja,.,.,.
ko jadi fotografer sekedar hobi kira2 mahal gak yah,,., hehehe
http://deded18.wordpress.com
Deded, kamera banyak jenis banyak type. Disesuaikan saja sam anggaran saja
terima kasih untuk tulisannya mas April…
Sama-sama Mas Arief
saya selalu manggut2 kalo baca tulisan sampeyan,mas.
thank’s for shared….
Makasih sudah mampir Mas Sukma
Sy suka fotografi, tp supaya lbh smpai kehati Sy mencurahknx dgn videografi…
Istilah mau dibolak balik silahkan saja. Buat saya fotografer ya orang yang mendedikasikan hidupnya buat dunia seni foto. Atau dengan kata lain, mending ga makan daripada ga motret. Tapi jangan sekalisekali motret sambil makan, apalagi pake SLR
**tolah toleh
dah punya kamera hampir 1tahun tapi bulum bisa menghasilkan karya yang bagus..
mohon wjengan’y
Silahkan baca tulisan saya hari ini. Mendefinisi Ulang Status Fotografer
Tksh mas, setuju banget ,jadi termotivasi.sampai ketemu dikelas sabtu.
salam kenal pak april,, tulisan2 nya membuka wawasan saya,,, salam hormat
Salam kenal Mas
Terimakasih sudah mampir ke blog saya.
Saya suka komentarnya bapak. Beberapa minggu yang lalu saya beli gear baru + kit untuk merasakan sensasi motret dengan kamera slr, dan ternyata memang asyik hasilnya… tapi saya kurang puas dengan sudut pemotretan dan objek yang saya ambil… bisa minder nih saya dgn yang sudah profesional…
Salam kenal Mas.
Selamat menjalani hobby memotret yang pasti mengasikkan
Tidak usah minder karena pada intinya semua orang juga pasti pernah melewati fase yang namanya belajar. Terus jepret saja, karena jam terbang pasti akan membuat kita makin hari makin bagus.