Tentang Pengkultusan Merk Kamera
Saya tidak akan mengemukakan kelebihan satu brand satu dengan brand lain di artikel ini, yang jelas soal ini saya hanya ingin memberikan beberapa catatan bahwa;
- Di luar sana, banyak yang rela meluapkan emosi sampai mengeluarkan otot leher untuk membela kehormatan brand yang dipakai. Itu bodoh. Kecuali dibayar perjam untuk energi emosi yang dikeluarkan.
- Kamera dan perangkatnya adalah gadget. Produsen akan selalu berlomba-lomba menyempurnakan teknologinya untuk memuaskan Anda. Amati dan manfaatkan saja.
- Tidak ada satu brandpun yang datang dan muncul dengan sempurna.
- Tanamkan point ke tiga dalam benak Anda hingga tidak ada fikiran bahwa brand yang Anda pegang lebih bagus dari brand lain.
- Jangan percayakan review sebuah gadget hanya pada satu sumber. Komparasikan dari beberapa source. Lebih bagus jika Anda mau repot mencari gear yang bersangkutan, meminjam, mencoba dan mereviewnya sendiri.
- Ingat, bicara soal gadget itu penting. Tapi yang jauh lebih penting dari itu semua adalah menyesuaikan output gear yang bersangkutan dengan SELERA Anda sendiri. Tidak ada yang tau kebutuhan dan keinginan Anda kecuali Anda sendiri.
- Jangan menutup mata terhadap kelebihan brand lain yang tidak dipunyai brand Anda. Terima, pelajari dan cari cara untuk mendapatkan kelebihan tersebut.
- Tidak haram menjual gear dan menggantinya dengan gear baru yang lebih baik.
- Terakhir yang paling penting. Saat gear yang Anda miliki membuat Anda kehilangan mood untuk memotret. Jangan ragu-ragu. Segera kemasi dan lempar ke bursa. Gear baru kadang-kadang bagus untuk obat penyemangat.

Catatan pengalaman;
Pertengahan tahun 2005, saya lupa kapan persisnya saat tengah menghadiri acara hunting sebuah klub online fotografi tiba-tiba dari arah depan datang seorang teman dengan wajah ceria sambil bertanya, “Pindah agama, Mas?”
Saya spenuhnya kurang sadar dengan maksud pertanyaan tersebut sampai kemudian saya menyadari arah tatapan teman saya pada saat itu yang masih dengan wajah ceria campur heran menatap kamera yang baru saya keluarkan dari tas saya.
“Ohhh…. iya” jawab saya sambil tersenyum
Tahun tahun itu, istilah ‘pindah agama’ saat kita berganti merk kamera belum sepopuler sekarang. Saat itu tidak ada pikiran apa-apa d benak saya karena saya memang cenderung suka gonta-ganti gadget. Bukan cuma kamera.
Khusus soal kamera, sampai hari ini hampir semua merk digital SLR pernah saya pegang. Nikon type D70 pada awal saya pertama kali punya DSLR, kemudian karena penasaran dengan betapa tingginya omset Canon dengan jutaan usernya sayapun coba merk Canon. Saat itu yang saya coba adalah EOS 350D, Tidak lama, hanya sekitar 5 bulan karena menyadari banyak fitur D70 yang tidak ada di 350D saya pun kembali pindah memakai D70. Kemudian upgrade ke D70s karena layarnya yang lebih lapang.
Setelah satu tahun, saya kemudian penasaran dengan ‘kehebatan’ merk Olympus yang di sebuah forum saat itu banyak diperbincangkan sebagai kamera dewa. Pas kebetulan di forum yang sama ada yang bersedia bantu saya mendapatkan Olympus E500. Ya sudahlah, kemudian saya pake Olympus.
Saat itu saya masih menjadi karyawan di sebuah perusahaan penerbitan surat kabar harian di Surabaya. Dan kebetulan jabatan saya adalah sebagai Redaktur Foto. Meski jarang turun ke lapangan tapi saya banyak bergaul dengan orang-orang pers khususnya fotografer. Di luar itu saya juga banyak berkomunitas di forum-forum fotografer online. Saya bahkan join d Fotografer dot Net sejak membernya masih itungan tiga digit
tepatnya tanggal 16 Februari 2003.
Saat kebetulan di tempat saya bekerja ada sedikit ketidakcocokan saya dengan wapemred, sayapun mengalah keluar kerja dan bermodal nekat mencari uang dengan usaha fotografi. Kondisi ‘profesional’ ini menuntut saya berganti merk dan menggunakan kamera yang ramah terhadap kerjaan liputan. Sayapun kemudian melego semua gear yang ada dan kembal menggunakan EOS. Saat itu saya pake EOS 350D dan 20D beserta lensa seadanya.
Jalan sekitar 2 tahun, ada cerita menarik yang saya dapat dari seorang teman tentang hebatnya brand ‘Sony’ yang saat itu baru saja mengakuisisi Konica Minolta dan mengembangkan teknologinya dengan brand baru Sony Alpha. Belum terlalu tertarik, karena saat itu yang ada baru Alpha 100 yang reviewnya tidak terlalu bagus dan A900 yang tidak terjangkau harganya.
Baru setelah Alpha 700 muncul saya lantas memutuskan untuk mengganti gear saya dengan brand Alpha. Di brand ini saya bertahan cukup lama sampai hari ini. Eksplorasi dari satu type ke type yang lain. 700, 300, 350, 500, 850. Banyak yang bertanya soal mengapa saya memakai brand yang cenderung tidak populer ini. Apalagi saat memutuskan untuk memakainya saya masih dalam kondisi berjalan di area komersial. Dan sumpah, saat itu saya tidak pernah ada menjumpai rekan-rekan lain sesama pekerja fotografi yang menggunakan brand serupa. @sueswit. copyrighted













Iya betul om, buat apa membanggakan merk tertentu, toh kita juga tidak dibayar untuk itu, (kalo dibayar saya mau juga bela-belain tuh merk)… maaf sejuta maaf, orang seperti bisa saya bilang PERSOTI Id**t (persatuan sok tau seIndonesia).. maju terus fotografi Indonesia.. dan salam..
Salam
“Tidak haram menjual gear dan menggantinya dengan gear baru yang lebih baik.
Terakhir yang paling penting. Saat gear yang Anda miliki membuat Anda kehilangan mood untuk memotret. Jangan ragu-ragu. Segera kemasi dan lempar ke bursa. Gear baru kadang-kadang bagus untuk obat penyemangat”
.sudah dua hari saya membaca2 blognya om… tp yang satu ini sungguh kena dengan saya…. sempat memakai @330 selama 4 bulan, tapi ada sesuatu yang membuat saya tidak puas, akhirnya dengan tekad yang bulat (bukan karena keracunan akut) saya lego juga tuh kamera kesayangan (benar2 d sayang kameranya)
hahahahaa…
nice share om… ^^
siip deh Mas kalau tulisan saya berkenan, heheheh
Bener. Merek kamera ndak penting. Yang penting lensanya Carl Zeis
iya mas… dan akhirnya saat ini mood saya benar2 kembali untuk menemukan foto yang penuh dengan hati… hehhehehe
Sipp… syukurlah kalau begitu
kamera saya cuma Sony DSC-H10
saya bangga punya itu, meskipun dibilang digital ngga’ semipro juga ngga’.
tapi soal hasil saya siap kalo mo ditantang sekelas Finepix HS-20.
salam jepret mas swet, ni pertama saya mampir ke blog mas.
Sony seri H lumayan lo Mas
bagus hasilnya.
Salam kenal dan makasih sudah mampir ke blog saya.
Salam kenal Om… saya fotografer baru sekali, banyak dapat pengetahuan di blog ini. tolong diperbanyak klinik fotografinya agar saya dapat terus belajar.
Untuk merek kamera… ya seperti kata orang it is depend on “the man behind the gun”… apapun mereknya, klo gak bisa moto ya percuma… secara saya juga pake produk lawas.. EOS 300D.. sukses selalu.
Siipp Mas
Nice share gan
Setuju ßö$$ buat äpã belain brand,Ķªζ¤ kita Gªª dapat äpã”
Dengan pengalaman mencoba, dan memakai berbagai merk, akan lebih bisa untuk bilang “BAGUS”… ada dasarnya… dan tentunya hal ini sangatlah bersifat pribadi… Jadi, saya sefaham dengan om April… Hehe… Mantab tulisannya… Sukses ya pak…
Setuju om, biasanya org yg ngotot merk “X” pasti paling baik krn dia belum mencoba dan menguasai semua merk, saya sendiri punya temen pakai 3 merk sekaligus, waktu saya tanya bagus mana, dia bilang ada min ada plusnya, lom ada yg perfect, so ngapain pusing ama merk, lebih baik memikirkan gimana caranya mengambil gambar dgn baik sesuai seleranya
piss…. He3x.
kmrn sempet browsing2 pas mau beli kamera pemula, ya biasa lah pilihannya di 2 merk besar itu. tapi akhirnya yakin karena baca postingan yang bilang kalo diantara 2 merk itu ada yang jelek, pasti sudah bankrut dari dulu.. lha ini masih tetep pada eksis sampe sekarang kedua2nya.