Dulu
Dulu,
semasa aku masih suka menumpuk-numpuk kertas HVS yang kubeli eceran menjadi sebuah notes yang tebal, aku begitu mudah menghabiskan isi pena hanya dalam hitungan minggu.
Dulu,
semasa uang saku hanya cukup untuk beli sarapan dan transport ke kampus, aku bisa dengan mudah membuat catatan yang panjang dan begitu merdu.
Dulu,
semasa tidak ada beban harus sesegera mungkin menjadi kaya, benturan kecil saja di hati bisa menjadi 5 halaman puisi yang berakhir dengan sertifikat, piala, honorarium atau cinta.
Dulu,
semasa memegang buku bermutu dan mahal masih begitu sulitnya, otakku rasanya tidak pernah lelah menuruti kehendak bahasa-bahasaku.
Dan dulu,
sepuluh atau empatbelas tahun yang lalu dimana mempunyai sebuah mesin ketik elektrik adalah cita-cita terbesar dalam hidupku, aku bisa begitu merasa cerdas menyelesaikan bacaan 280 halaman dalam waktu semalam.
—–
Aku sekarang bisa memeluk dunia,
mengetik sesuka,
dan tahu apapun yang aku mau tahu.
Tapi tiba-tiba aku rindu kehidupan seperti dulu.













So Sweet…….
heheheeee…
asik bacanya om…
Makasih Mas
he..he..dulu waktu pedekate ama bu April …dikirimi puisi terus ya mas ……Mas April senang puisi, mampu membuat puisi, pantesan bisa memotret dengan hati …