Beranda > Spontan > Dulu

Dulu

Dulu,
semasa aku masih suka menumpuk-numpuk kertas HVS yang kubeli eceran menjadi sebuah notes yang tebal, aku begitu mudah menghabiskan isi pena hanya dalam hitungan minggu.

Dulu,
semasa uang saku hanya cukup untuk beli sarapan dan transport ke kampus, aku bisa dengan mudah membuat catatan yang panjang dan begitu merdu.

Dulu,
semasa tidak ada beban harus sesegera mungkin menjadi kaya, benturan kecil saja di hati bisa menjadi 5 halaman puisi yang berakhir dengan sertifikat, piala, honorarium atau cinta.

Dulu,
semasa memegang buku bermutu dan mahal masih begitu sulitnya, otakku rasanya tidak pernah lelah menuruti kehendak bahasa-bahasaku.

Dan dulu,
sepuluh atau empatbelas tahun yang lalu dimana mempunyai sebuah mesin ketik elektrik adalah cita-cita terbesar dalam hidupku, aku bisa begitu merasa cerdas menyelesaikan bacaan 280 halaman dalam waktu semalam.

—–

Aku sekarang bisa memeluk dunia,
mengetik sesuka,
dan tahu apapun yang aku mau tahu.
Tapi tiba-tiba aku rindu kehidupan seperti dulu.

Categories: Spontan
  1. ronin
    27 April 2011 pada 2:39 pm | #1

    So Sweet…….

  2. 4 Mei 2011 pada 4:51 pm | #2

    heheheeee…

    asik bacanya om…
    :D

  3. Chairul Anwar
    7 Mei 2011 pada 7:35 am | #4

    he..he..dulu waktu pedekate ama bu April …dikirimi puisi terus ya mas ……Mas April senang puisi, mampu membuat puisi, pantesan bisa memotret dengan hati …

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 496 pengikut lainnya.