Menggali Ilmu Fotografi Bisa Dari Mana Saja

Kalau mau jeli, saat kita lewat atau berjalan-jalan di tempat-tempat yang menarik, hampir pasti di situ pulalah kita akan melihat orang berfoto-foto. Tempat menarik tidak harus tempat wisata. Tempat menarik bisa di mana saja. Kalau di Surabaya, tengoklah di Taman Bungkul, Taman Pelangi, Cafe Hallo, rumah-rumah tua di Jl. Gula, kawasan Siola (khususnya di depan Hotel Majapahit) atau di mall yang memperbolehkan pengunjungnya berfoto-foto. Hampir setiap waktu pasti ada aktifitas fotografi di situ. Entah itu untuk yang berkomersil, misalnya foto pre-wedding, yang belajar foto, maupun yang berkumpul dengan komunitasnya untuk motret bareng.

Kalau diamati lebih jeli lagi, sudah bolehlah dikatakan mayoritas dari pelaku fotografi yang saya sebut tadi sudah menggunakan kamera DSLR. Kamera DSLR ini bahasa awamnya adalah kamera pro atau masyarakat kebanyakan menandainya dengan kamera yang lensanya bisa diganti-ganti. Aslinya memang SLR (Single Lens Reflect). Ketambahan unsur ‘D’ karena hampir semua sekarang populasinya didominasi oleh sistem ‘Digital’. Jadi DSLR adalah kamera Digital SLR.

Fenomena ini sebenarnya berkembang belum lama. Kurang lebih awal tahun-tahun 2006an dimana persaingan antar brand merk kamera sudah mulai terasa. Kamera Digital SLR mulai dijual dengan harga terjangkau dan masyarakat ‘baru menyadari’ kalau fotografi itu ternyata mudah dan menyenangkan. Sangat berbeda dengan jaman analog dimana kamera masih memerlukan proses ribet, film, cuci, cetak dan lain-lain.

Sayangnya, berkembangnya fenomena ini kadang-kadang kurang diikuti dengan kemauan si pelaku fotografi untuk benar-benar mengeksplorasi pengetahuan fotografi. Dari yang saya amati, sangat banyak pengguna kamera-kamera canggih nan mahal ini masih bergantung pada mode pemotretan otomatis. Hasil yang diperoleh kemudianpun juga hasil yang bagus dalam taraf rata-rata. Padahal kalau mau dieksplorasi, kamera yang mereka gunakan sebenarnya jauh bisa menghasilkan gambar yang lebih berkualitas.

Bagi yang serius menekuni fotografi, entah itu dalam rangka sebagai hobi atau bahkan yang sudah mempunyai niat untuk menjadikan fotografi sebagai pekerjaan profesional, biasanya minat untuk menggali ilmu fotografi lebih terasa semangatnya. Berbagai macam sumber ilmu akan berusaha mereka masuki untuk memperdalam pengetahuan mereka akan dunia fotografi.

Toko Kamera
Jalur paling dasar untuk memahami operasional kamera secara maksimal biasanya adalah pada saat kita pertama kali berbelanja kamera dan perlengkapannya. Memang sudah menjadi tanggung jawab pihak toko kamera untuk sedikit banyak memberi penjelasan dasar mengenai barang yang dijualnya. Tetapi sayangnya tidak semua toko kamera melakukan hal ini dengan sepenuh hati. Hanya ada beberapa toko saja yang menyediakan waktu dan tempat bagi pelanggannya untuk bertanya dan belajar ilmu fotografi.

Kursus Fotografi
Jalur kedua yang formal adalah dengan mengikuti kursus. Hampir setiap kota besar di Indonesia saya yakin ada yang menyediakan tempat kursus fotografi. Bentuknya beragam, dari yang mulai kursus privat, maupun yang berupa lembaga kursus resmi yang mempunyai kurikulum teratur dan meyakinkan. Ada juga institusi-institusi resmi yang menyediakan jurusan fotografi secara khusus. Misalnya di Jogjakarta dan Jakarta. Cara ini bagus ditempuh kalau memang kita menginginkan dasar fotografi yang kuat. Sayangnya banyak orang yang tidak sabar dengan sumber ilmu melalui kursus ini. Apalagi jika yang bersangkutan sudah memiliki aktifitas rutin semacam sekolah, kuliah atau pekerjaan.

Referensi Online
Berikutnya yang juga banyak dilakukan orang adalah dengan menggali referensi online. Istilahnya, kalau kita bisa memanfaatkan internet segalanya akan jadi mudah. Hampir semua pertanyaan fotografi jawabannya ada di internet. Apalagi kalau kita rajin memantau portal-portal fotografi online. Di sana sangat banyak referensi. Baik itu referensi foto-foto bagus sekalian dengan data teknis pembuatan dan olahannya. Sehingga kita juga akan jadi lebih mudah untuk memilih foto bagus sekaligus mengetahui persis bagaimana cara setting mendapatkannya. Bahkan beberapa merk sudah memiliki komunitas user online. Dengan komunitas yang satu ini, wadah untuk berbagi dan bertanya menjadi lebih spesifik.

Berkomunitas
Terakhir, yang paling recommended dilakukan menurut saya adalah dengan berkomunitas. Cara ini bisa jadi akan membuat Anda pintar dengan sangat cepat. Di Surabaya, komunitas foto yang membentuk klub-klub kecil sangat banyak bertebaran. Ada yang berbasis merk kamera, berdasar pada ketertarikan aliran fotografi (macro, landsca[e, model) pertemanan, klub BBM, klub Facebook, klub instansi, sekolah dan lain-lain. Sangat banyak bahkan tidak terhitung jumlahnya.

Mengapa saya bilang kalau berkomunitas merupakan cara paling bagus untuk memperdalam ilmu fotografi? Yang pasti bahwa di komunitas pasti akan banyak sumber pengetahuan, minimal dari member-member yang sudah lebih lama menggeluti fotografi. Rata-rata, cara belajar dengan dibimbing langsung oleh yang berpengalaman seperti ini akan lebih mudah dipahami dan dipraktekkan. Kita juga akan lebih leluasa mengungkapkan apa yang kita tidak faham. Pasti saat itu juga akan langsung mendapat solusi dari mereka. Jauh lebih efektif jika dibandingkan kita belajar lewat buku atau internet.

Lebih bagus lagi kalau komunitas yang kita pilih adalah komunitas yang konsen dengan edukasi fotografi. Komunitas semacam ini rata-rata secara teratur akan berkumpul. Bukan cuma sekedar bersenang-senang hunting bareng atau cangkruk saja. Tapi biasanya mereka juga akan secara teratur mengadakan sharing fotografi. Berkumpul, berdiskusi saling tukar pengetahuan, bedah foto dan lain-lain. Bahkan tidak jarang juga mendatangkan pembicara-pembicara yang berkompeten dengan bidang fotografinya.

Kesimpulannya, banyak pilihan untuk mengembangkan ilmu fotografi. Yang pasti jangan sia-siakan kamera yang Anda beli dengan harga mahal. Maksimalkan sebisa mungkin untuk mendapatkan hasil foto yang sempurna. Semoga membantu dan salam jepret..! @sueswit.copyrighted

Tulisan ini dimuat di Harian Surya edisi Minggu 5 Februari 2012

Seorang Fotografer Wanita Mengabadikan 3 Zaman Melalui Kamera

REBLOG from stluciasound:

DI PENGHUJUNG usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.

Agresi Belanda yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan di kota Solo menyebabkan Sri Suharti tidak sempat meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia masih ingat pada waktu rumahnya di Panularan dijadikan dapur umum para pejuang yang bergerilya melawan Belanda. Bahkan ia sempat terjun ke dalam kancah pertempuran sebagai spion gerilyawan yang dipimpin Slamet Riyadi di Solo. Sri Suharti sempat mengabadikan para pejuang yang bersembunyi di rumahnya. “Saya tidak tahu apakah masih ada sisa-sisa gambar para pejuang itu,” ujarnya

Kegemaran Sri memotret nyaris terkubur setelah ayahnya tutup usia pada tahun 1950. Selama empat tahun setelah ayahnya meninggal dunia, praktis ia tak banyak menyalurkan hobi memotret lagi. “Sehari-hari kerjaannya hanya melamun dan merenungi nasib,” ujarnya. Keadaan berubah setelah ia menerima pinangan Murjito, seorang pegawai negeri bagian dokumentasi dan humas di Balai Kota Surakarta pada tahun 1954.

“Setelah menikah dengan Mas Murjito, mulai tumbuh semangat memotret kembali,” ingatnya. Masih menggunakan kamera pinjaman merk Rolleiflex dan Rolleicord, Sri kembali menekuni dunia yang nyaris dilupakannya. Suaminya, Murjito, mendorongnya untuk kembali bergelut menekuni dunia fotografi dan mengabadikan berbagai peristiwa di kota Solo pada tahun 1970-an. “Mungkin hampir 16 tahunan lebih saya ndak memotret,” ujarnya mengenang.

Read More

Analisis Sederhana tentang Seni Fotografi

Saya tergerak untuk membuat tulisan ini karena dari hari ke hari banyak hasil search di google tentang ‘seni fotografi’ yang nyasar dengan sengaja ke blog saya. Satu hari bisa 2 sampai 9 klik dari google dengan query ‘seni fotografi’

Oke kita mulai saja. Mengapa era digital ini banyak bermunculan pertanyaan mengenai seni fotografi. Kenapa tidak dari jaman-jaman dulu semasa fotografi masih merupakan kegiatan langka dan sulit dimana memotret merupakan kegiatan yang njlimet dan membutuhkan pengetahuan ribet.
Read more

Panduan Memilih Kamera DSLR bagi Fotografer Pemula

Semenjak era kamera digital muncul dan berkembang pesat di Indonesia menjelang tahun 2000an yang lalu, hingga hari ini perkembangan teknologi yang menyertainya sungguh terbilang luar biasa. Baik itu yang berupa kamera ponsel, kamera pocket maupun kamera DSLR (Digital SLR). Imbas positifnya, fotografi yang semasa jaman analog dulu dikenal sebagai hobi yang sulit dan mahal, sekarang tidak lagi. Segala kemudahan teknologi dan fasilitas yang mumpuni sudah ditanamkan pada setiap kamera digital belakangan ini. Fotografi jadi sedemikian mudah dan hampir setiap orang bisa dan berkesempatan belajar dengan cepat. Read more

Soal Pilihan Lensa Pengganti Lensa Kit (Canon)

Kebingungan banyak orang ketiga ada dana lebih dan sudah merasa tidak cukup dengan hanya lensa kit adalah mencari pengganti lensa kit dengan focal lenght yang relatif sama (middle). Untuk pengguna Canon EOS, dari pengalaman beberapa teman saya, yang banyak menjadi bahan pertimbangan adalah antara lesa Canon 17-40 F/4 atau Tamron 17-50 F/2.8. Sebagian dari mereka memilih Canon L 17-40 F/4 dengan berbagai alasan, dan sebagian ada juga yang memilih Tamron 17-50 F/2.8 dengan alasan yang tidak salah juga.

Kalau saya dimintai pertimbangan maka yang bisa saya sampaikan adalah;
Read more

Soal Lomba Fotografi (part. 1) Foto Bagus dan Foto Istimewa

Sensor kamera yang Anda punya terdiri dari jutaan pixel yang merefleksikan intelegensi fotografi dan selera Anda. Jadi soal frame value, tidak ada yang namanya kebetulan.

Sejak bergelut dengan dunia fotografi digital, banyak sekali kesempatan bagi saya untuk mengamati perkembangan seni fotografi. Baik itu secara kualitas maupun kuantitasnya. Dan kata-kata yang tepat untuk menyimpulkan keduanya adalah ‘luar biasa’. Perkembangan teknologi yang dibarengi dengan semakin terjangkaunya nilai beli dari sebuah alat yang bernama kamera digital SLR membuat seakan-akan fenomena ini tak terbendung. Semakin dahsyat, karena pada saat yang bersamaan mengalir pula kekuatan publikasi yang bernama media sosial.
Read more

Tompi

Setelah kurang lebih enam bulanan tidak motret panggung, akhirnya semalam dapat juga kesempatan. Bermula membaca postingan teman di time line twitter yang menginformasikan kalau Tompi perform di Surabaya Town Square (Sutos) sekitar jam 19.30 berangkat sendiri.

Di lokasi, baru tau kalau ternyata Tompi perform atas undangan untuk meramaikan ulang tahun Excellso. Artinya…. yang bisa merapat ke panggung cuma by invitation aja :) Sedikit lobby ke ‘guard’ untuk bisa masuk ke lokasi (karena saya punya kartu member Excellso) tapi gak boleh, ya akhirnya sabar aja berdiri nunggu di belakang sambil nonton fashion show.
Read more

Soal Memory Card

Jangan pernah percaya sama memory card karena merknya. Saya pernah beli memory card yang katanya terbaik. Tidak sampai dua tahun jebol juga. Yang abal-abal malah panjang umurnya. Lebih baik jika Anda lebih mempertimbangkan kemudahan after sales service penjual/produsennya, karena biasanya memory card ini bergaransi panjang.

Read more

Kevin Carter, Cermin Jiwa Fotografer yang Menjadi Korban dari Hasil Karya Fotografinya

Sebuah pengantar untuk film kisah nyata Bang Bang Club

Kalau Anda penghobby fotografi dan banyak membaca forum-forum fotografi, apalagi Anda peminat foto-foto jurnalistik atau human interest, Anda pasti pernah mendengar pertanyaan menggoda seperti ini;

“Kalau Anda sedang berhadapan dengan situasi kecelakaan atau hal sejenis dimana itu adalah sebuah momen, apa yang Anda lakukan terlebih dahulu? Menolong orang yang menjadi korban? Atau memotret momentnya terlebih dahulu?
Read more

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 380 pengikut lainnya.